Tampilkan postingan dengan label #sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2020

MENGUNGKAP!! RAHASIA BESI



Besi adalah unsur kimia dengan simbol Fe (dari bahasa Latin: ferrum) dan nomor atom 26. Merupakan logam dalam deret transisi pertama.[3] Ini adalah unsur paling umum di bumi berdasarkan massa, membentuk sebagian besar bagian inti luar dan dalam bumi. Besi adalah unsur keempat terbesar pada kerak bumi. Kelimpahannya dalam planet berbatu seperti bumi karena melimpahnya produksi akibat reaksi fusi dalam bintang bermassa besar, di mana produksi nikel-56 (yang meluruh menjadi isotop besi paling umum) adalah reaksi fusi nuklir terakhir yang bersifat eksotermal. Akibatnya, nikel radioaktif adalah unsur terakhir yang diproduksi sebelum keruntuhan hebat supernova. Keruntuhan tersebut menghamburkan prekursor radionuklida besi ke angkasa raya.

Seperti unsur golongan 8 lainnya, besi berada pada rentang tingkat oksidasi yang lebar, −2 hingga +6, meskipun +2 dan +3 adalah yang paling banyak. Unsur besi terdapat dalam meteorit dan lingkungan rendah oksigen lainnya, tetapi reaktif dengan oksigen dan air. Permukaan besi segar tampak berkilau abu-abu keperakan, tetapi teroksidasi dalam udara normal menghasilkan besi oksida hidrat, yang dikenal sebagai karat. Tidak seperti logam lain yang membentuk lapisan oksida pasivasi, oksida besi menempati lebih banyak tempat daripada logamnya sendiri dan kemudian mengelupas, mengekspos permukaan segar untuk korosi.

Logam besi telah digunakan sejak zaman purba, meskipun paduan tembaga, yang memiliki titik lebur lebih rendah, yang digunakan lebih awal dalam sejarah manusia. Besi murni relatif lembut, tetapi tidak bisa didapat melalui peleburan. Materi ini mengeras dan diperkuat secara signifikan oleh kotoran, karbon khususnya, dari proses peleburan. Dengan proporsi karbon tertentu (antara 0,002% dan 2,1%) menghasilkan baja, yang lebih keras dari besi murni, mungkin sampai 1000 kali. Logam besi mentah diproduksi di tanur tinggi, di mana bijih direduksi dengan batu bara menjadi pig iron, yang memiliki kandungan karbon tinggi. Pengolahan lebih lanjut dengan oksigen mengurangi kandungan karbon sehingga mencapai proporsi yang tepat untuk pembuatan baja. Baja dan paduan besi berkadar karbon rendah bersama dengan logam lain (baja paduan) sejauh ini merupakan logam yang paling umum digunakan oleh industri, karena lebarnya rentang sifat-sifat yang didapat dan kelimpahan batuan yang mengandung besi.

Senyawa kimia besi memiliki banyak manfaat. Besi oksida dicampur dengan serbuk aluminium dapat dipantik untuk membuat reaksi termit, yang digunakan dalam pengelasan dan pemurnian bijih. Besi membentuk senyawa biner dengan halogen dan kalsogen. Senyawa organologamnya antara lain ferosen, senyawa sandwich pertama yang ditemukan.

Besi memainkan peranan penting dalam biologi, membentuk kompleks dengan oksigen molekuler dalam hemoglobin dan myoglobin; kedua senyawa ini adalah protein pengangkut oksigen dalam vertebrata. Besi juga logam pada bagian aktif sebagian besar enzim redoks yang berperan dalam respirasi seluler serta oksidasi dan reduksi dalam tumbuhan dan hewan.

Besi Kersani adalah istilah yang sering digunakan di dalam mantra (Indonesia dan Malaysia) terutama di dalam budaya Melayu. Di dalam bahasa Minangkabau besi kersani disebut sebagai basi karasani. Istilah besi kersani ini juga tertulis di dalam Alkitab di Kitab Yeremia 15:12 versi Terjemahan Lama, yang berbunyi: "Adakah besi yang dapat memecahkan besi dari utara, yaitu besi kersani?". Selain itu istilah ini dicatat juga dalam 2 Samuel 22:35, Ayub 20:24, Mazmur 18:34 (versi Terjemahan Lama). Dalam Terjemahan Baru istilah yang dalam bahasa aslinya "nachushah" ini diterjemahkan menjadi tembaga

Istilah kuraisani (bahasa Melayu lama untuk kersani) ini juga terdapat di dalam Naskah Melayu tua yang ditemukan di Tanjung Tanah, Kabupaten Kerinci yang berisi tentang undang-undang dari Raja Aditiawarman untuk daerah tersebut

Jika melihat dari bahasanya, besi kersani ( besi kursani, qursani, khurasani, khursani) mungkin berasal dari kata khurasan atau khorasan, suatu kawasan yang meliputi bagian dari Iran, Afganistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Di kawasan ini dahulunya dihasilkan pedang dengan kualitas besi yang sangat bagus dan kuat. Kekuatan besi inilah yang kemudian diibaratkan menjadi kekuatan batin di dalam tubuh oleh pengamal ilmu batin.

Rabu, 08 Juli 2020

"PANGERAN H.UMAR MACAN GERILYA JAMBI “HILANG TAK DI CARI, MATI TAK DIKENANG”

Penuulis :

M. Ali Surakhman

 

PERANG  KERINCI TAHUN 1901 – 1903

 

         Diperkirakan sejak masa pengaruh Hindu-Budha, Kerinci telah mempunyai hubungan dengan daerah sekitarnya. Perhubungan itu puncaknya pada abad 19 sekitar tahun 1815, ketika Belanda berhasil menduduki Muko-Muko dan Indrapura. Belanda tertarik dan berusaha untuk memasuki daerah Kerinci yang kaya akan hasil buminya. Belanda berupaya mencari jalan ke Kerinci. Mula-mula pada tahun 1900 dari Muko-Muko dikirim sepasukan Belanda mengadakan patroli di Bukit Setinjau Laut. Di puncak Gunung Raya Belanda mendirikan sebuah pesanggrahan dan memasang satu tanda sebagai peringatan kedatangan mereka.

         Setelah diketahui adanya Belanda akan menyerang Kerinci, maka rakyat Kerinci menjadi gempar dan marah, karena orang Belanda yang datang itu dianggap kafir. Penduduk Kerinci 100% penganut Islam, tentu kedatangan Belanda tidak disukai. Utusan Belanda dipimpin oleh Imam Marusa dan Imam Mahdi  antara Lempur dan Lolo dicegat oleh para hulubalang Kerinci di bawah pimpinan Depati Parbo dari Lolo dan Depati Agung di Lempur. Imam Marusa dan Imam Mahdi dibunuh di tempat tersebut. Dengan alasan terbunuhnya utusan tersebut, Belanda bersiap untuk menyerang Kerinci. Kedatangan mereka telah diketahui oleh seluruh hulubalang di Kerinci yang telah mempersiapkan pertahanan untuk menyambut kedatangan pasukan Belanda. Percegatan terjadi ketika hulubalang sebanyak lebih kurang 18 orang mengadakan patroli ke Renah Manjuto. Kekuatan Belanda berjumlah lebih kurang 300 orang. Pertempuran pertama di Renah Manjuto berkecamuk antara hulubalang Kerinci dengan pasukan Belanda di bawah pimpinan Depati Parbo. Benteng pertahanan Depati Parbo terletak di sebelah Selatan Desa Lempur Mudik menghadap ke Renah Menjuto. Korban dipihak Belanda banyak sekali sehingga mereka gagal memasuki Kerinci. Ketika itulah pada tahun 1901 Perang Kerinci melawan penjajahan Belanda dimulai.

Di bawah pemerintahan G.G. Van Hents tahun 1900 Belanda berusaha mencari jalan ke Kerinci, yaitu dengan mempergunakan pengaruh Tuanku Regen Indrapura. Bujuk rayu Belanda terhadap Tuanku Ragen Indrapura tidak mampan. Pada bulan Oktober 1901 (Catatan St. Iradat keponakan Tuanku Regen) Kumendur H.K Manupasya bersama asisten Residen Kooreman, minta agar Tuanku Regen membujuk para Depati dan hulubalang Kerinci mau menerima Pemerintahan Belanda. Kemenakan Tuanku Regen bernama Sutan Irdat dengan 17 orang hulubalangnya datang ke Kerinci, terus ke Hamparan Besar di Rawang. Sementara itu pasukan Belanda sebanyak 120 orang telah berada di Indrapura, bersiap-siap untuk menyerang Kerinci. Namun para Depati dan hulubalang Kerinci, telah bertekad untuk mempertahankan daerahnya sampai titik darah terakhir. Bulan Maret 1902 pasukan Belanda sebanyak 500 orang di bawah komando Kapten Bolmar mendarat di Muaro Sakai. Tuanku Regen diajak ikut serta, sebenarnya maksud Belanda adalah sebagai pemandu penunjuk jalan masuk ke Kerinci. Serangan Belanda secara serentak memasuki Kerinci dilakanakan dari tiga jurusan :

1.      dari Renah Manjuto;

2.      dari Koto Limau Sering;

3.      dari Temiai.

 

         Para hulubalang Kerinci telah bersiap-siap menyambut kedatangan pasukan Belanda. Perang hebat terjadi pada ke tiga tempat tersebut yaitu di Renah Manjuto, Koto Limau Sering dan Temiai. Banyak korban tewas dipihak Belanda, para depati dan hulubalang Kerinci juga banyak pula syahid. Setelah Koto Limau Sering dikuasai, pasukan Belanda turun memasuki ke lembah Kerinci. Terjadi Perang di Talang Tehentak, disusul dengan peperangan dimana-mana seperti di Rawang, Hiang, Pulau Tengah dan Debai. Pertempuran di Lolo, Lempur dan Renah Manjuto dipimpin oleh Depati Parbo dan pertempuran di Temiai dipimpin oleh Depati Menti.

         Dalam perang di Pulau Tengah yang dipimpin oleh seorang ulama terkenal masa itu yakni Haji Ismail dan wakilnya Haji Husin, telah bergabung pula para hulubalang dari dusun-dusun lainnya di Kerinci. Itulah sebabnya dalam sejarah perang Kerinci, pertempuran di dusun ini merupakan pertempuran yang tersengit dan terlama (lebih kurang 3 bulan). Pulau Tengah diserang oleh Belanda sejak tanggal 27 Maret 1902 dari 3 jurusan, yaitu:

1.      dari jurusan Timur; Sanggaran Agung – Jujun;

2.      dari Jurusan Utara; Batang Merao - Danau Kerinci;

3.      dari Jurusan Barat; Semerap - Lempur Danau.

          Berkali-kali serangan dilancarkan oleh pasukan Belanda ke Pulau Tengah tetapi selalu gagal. Setelah mendapat bantuan pasukan dan persenjataan dari Padang pasukan Belanda melancarkan serangan yang lebih hebat lagi. Menurut laporan yang disusun oleh A.Ph Van Aken, kontrolir pemerintah dalam negeri, dengan bantuan biro Ensiklopedi yang dikeluarkan di Batavia tahun 1915, setelah serangan Belanda yang gagal terhadap Pulau Tengah tanggal 19 Juli 1903 banyak para pejuang dari Kerinci Selatan yang mengalir bergabung di negeri ini pasti melakukan perang suci (Sabilillah) sampai kekuatan penghabisan.

Serangan terakhir untuk merebut Pulau Tengah dilakukan Belanda pada tanggal 9 – 10 Agustus 1903 dengan membakar Dusun Baru, perlawanan rakyat dapat mereka selesaikan. Dalam tulisannya yang berjudul “De Expeditie naar Korintji in 1902 – 1903; imperialisme of ethische politiek, (1897)”, H.J. Van der Tholen mengatakan bahwa dalam perang ini telah tewas 6 orang pasukan Belanda (diantaranya 3 orang perwira), 40 orang luka-luka berat dan ringan. Pembakaran Dusun Baru mengakibatkan 300 orang hangus terbakar, kebanyakan anak-anak, ibu rumah tangga dan para orang tua yang tidak berdaya. Jika Depati Parbo tertangkap, pejuang di Pulau Tengah telah bersumpah berjuang sampai tetesan darah terakhir. Pejuang-pejuang tersebut tidak satupun yang tertangkap atau menyerah, mereka banyak yang tewas dalam pertempuran.  Haji Ismail yang selamat dalam kebakaran, disembunyikan penduduk di hutan dekat Pancuran Rayo, sedangkan Haji Husin dan beberapa orang kawannya menyingkir ke Singapura.

Setelah Pulau Tengah jatuh ketangan Belanda tanggal 10 Agustus 1903, yang mana pada hakekatnya perang Kerinci telah selesai, namun perlawanan kecil-kecilan masih terjadi di sana– sini. Terakhir pasukan Belanda melanjutkan serangan ke Lolo, markas panglima Perang Kerinci Depati Parbo. Pertempuran selama 5 hari disini, dan akhirnya Belanda dapat membujuk Depati Parbo mengadakan perundingan damai. Dalam peruningan inilah Depati Parbo ditangkap dan dibuang ke Ternate, Setelah Kerinci aman pada tahun 1927, atas permohonan Kepala-kepala Mendapo di Kerinci kepada Pemerintah Belanda, Depati Parbo dibebaskan dan kembali ke Kerinci.

Pada awal 1906 Pangeran Haji Umar dan saudaranya Pangeran Jaya Kusuma yang mengungsi dari Jambi tiba di Kerinci, mereka disambut oleh rakyat Kerinci yang tidak senang kepada Belanda. Dengan bermarkas di Pungut.

Pada tahun 1906 terjadi pertempuran di Sanggaran Agung (Kerinci) pasukan Jambi yang dipimpin oleh Pangeran Haji Umar bersama saudaranya Pangeran Seman Jaya Negara. Banyak korban dipihak Belanda akibat serangan tersebut dan banyak pula senjata Belanda yang dapat dirampas. Serangan tersebut merupakan serangan terakhir sebagai pembalasan terhadap ditangkapnya Depati Parbo salah seorang panglima perang Kerinci yang kemudian dibuang Belanda ke Ternate. Di Semerap terdapat markas gabungan pasukan Jambi dan hulubalang Kerinci yang dinamai Renah Pangeran, sebanyak 3 orang pimpinannya diantaranya Ali Akbar dari Jujun ditangkap Belanda dan dibuang ke Ternate.

 Menjelang akhir abad 19 Belanda menambah kekuatannya dengan mendatangkan pasukan dari Palembang, Jawa, dan Aceh ke Jambi. Mengantisipasi serangan Belanda, Sultan Thaha Syaifuddin menyusun strategi dengan membagi wilayah pertahanan, yaitu: 1) Raden Mat Tahir ditetapkan sebagai panglima perang yang wilayahnya meliputi Jambi Kecil, Air Hitam Darat, Ulu Pijoan, Pematang Lumut, Bulian Dalam, Ulu Pauh, Payo Siamang, Jelatang, dan Pijoan; 2) Pangeran Haji Umar Bin Yasir bergelar Pangeran Puspojoyo wilayahnya meliputi Batang Tembesi hingga Kerinci; dan Sultan Thaha Syaifuddin bersama Raden Hamzah gelar Diponegoro wilayahnya meliputi Batanghari dan Tembesi. 


Strategi yang disusun Sultan Thaha Syaifuddin tidak berlangsung lama karena beberapa pimpinan tewas atau tertawan, seperti Sultan Thaha Syaifuddin sendiri tewas di Betung Bedara pada 27 April 1904; Pangeran Ratu Kartaningrat ditangkap Belanda dan diasingkan ke Parigi, Sulawesi Tengah; Depati Parbo dari Kerinci ditangkap dan diasingkan ke Ternate; Pangeran Haji Umar Puspowijoyo dan Pangeran Seman Jayanegara tewas di Pemunyian, Bungo di tahun 1906; Ratumas Sina di tahun 1906 ditangkap di Pemunyian; Raden Hamzah tewas di tahun 1906 di Lubuk Mengkuang; dan tahun yang sama Raden Pamuk ditangkap di Thehok, Jambi.
Raden Mat Tahir yang kerap kali berhasil meloloskan diri dari sergapan pasukan Belanda disebutkan sebagai seorang yang keras kepala, tidak mudah ditaklukan, seorang lawan yang gesit, dan ditakuti. Pemerintah Belanda melalui residen di Palembang  memerintahkan pasukan marsose untuk menangkap Raden Mat Tahir hidup atau mati. Pengejaran terhadap Raden Mat Tahir pun ditingkatkan dan dengan dibantu seorang Kapten Melayu kedudukan Raden Mat Tahir di Muarojambi diserang. Serangan ini selain menewaskan Raden Mat Tahir, juga Raden Achmad gelar Raden Pamuk Kecik, dan Pak Gabuk, salah seorang pengawal Raden Mat Tahir.
Untuk memastikan kebenaran  bahwa yang tewas adalah Raden Mat Tahir, jenazah Raden Mat Tahir dibawa ke Jambi dengan menggunakan kapal "Robert" untuk diperlihatkan pada khalayak ramai. Atas permintaan para pemuka agama Islam, jenazah Raden Mat Tahir dimakamkan di kompleks makam raja-raja di tepi Danau Sipin, Jambi.


SOSOK MACAN GERILYA PANGERAN H. UMAR


https://youtu.be/SB62i4FHUdo

Pangeran H. Umar dikenal sebagai sosok pejuang yang gigih dan pantang menyerah, karena terdesak oleh Belanda, Pangeran H. Umar mundur ke Tanah Tumbuh dan melanjutkan perjalanan ke daerah Pungut Kerinci. Bersama Pangeran Mudo dan beberapa hulubalang dan sejumlah pemuda dari Siulak disatukan untuk menghadapi serangan dan mengusir serdadu Belanda dari Alam Kerinci.

 

Pangeran H. Umar dan  Pangeran Mudo melakukan taktik perang gerilya dimalam hari, di daerah Siulak Pasukan Gerilya ini berhasil mencegat dan menewaskan 9 orang serdadu Belanda, keberanian Pangeran H. Umar dan pejuang-pejuang yang dipimpinnya mengundang simpatik dari para pejuang pejuang Kerinci lainnya, dan para pejuang pejuang itu bergabung untuk menambah kekuatan pejuang ini.

                

Dilain pihak penjajah Belanda merasa cemas dan gerah melihat sepak terjang dan perlawanan yang dilakukan kelompok pejuang Pangeran H. Umar dan Pangeran Mudo. Dengan taktik licik Belanda berkali kali berusaha untuk menangkap Pangeran H. Umar dan Pangeran Mudo, namun niat busuk Belanda tidak dapat terwujud, akhirnya Belanda mengeluarkan sebuah keputusan yang intinya melarang rakyat untuk membantu perjuangan Pangeran H. Umar, bahkan Belanda memberi hukuman kepada rakyat jika di dusun mereka terjadi perlawanan yang dilakukan Pangeran H. Umar, maka Belanda akan menghukum rakyat tersebut dengan menjatuhkan denda yang sangat memberatkan rakyat.

 

Ada beberapa dusun yang dijadikan basis perlawanan pasukan Pangeran H. Umar seperti Dusun Siulak Kecil pernah membayar denda kepada Belanda berupa 11 Ekor kerbau, di Siulak Mukai di denda 11  ekor kerbau, di Semurup F.1.200, Dusun Sungai Abu F.15.000, Dusun Jujun F.1.200, dan sejumlah dusun lainnya. Besarnya denda tergantung dengan kerugian yang diderita Belanda saat melakukan peperangan dengan para pejuang kelompok Pangeran H. Umar, cs.

 

Menurut Sabarudin Akhmad slah satu keturunan Pangeran H.Umar , cerita yang diperoleh dari keluarga yang dituturkan secara turun temurun, diwaktu bersamaan sesungguhnya pribadi Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman sendiri masa itu medapat tekanan batin yang amat berat. Isteri dan anak-anak Pangeran Haji Umar di Pangkalan Jambu Merangin telah ditangkap pasukan marsose Belanda dipimpin Kapiten Kemas Ngebi Yudo Kadir serta diasingkan ke Muara Kumpeh sebagai tawanan perang. Belanda memerintahkan Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman menghentikan serangan dan perlawanan di Alam Kerinci, jika tidak patuh dengan perintah tersebut isteri dan anak-anaknya akan dibantai satu persatu sampai Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman menyerahkan diri. Namun dengan keyakinan penuh, Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman tidak pernah berhenti setapak pun, bagi kedua bersaudara tersebut urusan umur ketentuannya ditangan Allah SWT semata, tidak seorangpun yang dapat memutuskan batasnya dengan itu hanya kepada Allah SWT semata ia serahkan keselamatan isteri dan anak-anaknya. Belanda dan antek-anteknya sungguh-sungguh biadab, tidak berhasil dengan ancamannya, dalam pada itu Kapiten Kemas Ngebi Yudo Kadir merampas isteri muda Pangeran Haji Umar dan menjadikannya sebagai isteri, tidak cukup dengan itu anak perempuan Pangeran Haji Umar dari isteri tua (Dauya Rantau Majo) bernama Ratumas Leha (Zaleha) diculik ketika sedang mandi di jamban dari Muara Kumpeh dan dikawininya secara paksa.

 

Dalam kondisi tekanan batin yang amat sangat berat ditanggung kakak beradik Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman, datang pula sekelompok tokoh masyarakat Alam Kerinci menghadap, yang memaparkan penderitaan rakyat Kerinci. Diceritakan oleh Anggota Tim Peneliti kepahlawan Panglima Perang Kerinci Depati Parbo, bahwa melihat penderitaan yang di alami oleh rakyat, seorang tokoh masyarakat di Dusun Baru Sungai Penuh H. Bakri gelar Depati Simpan Negeri awalnya mendatangi sejumlah tokoh masyarakat di daerah Kemendapoan Semurup dan Depati VII. H. Bakri pada waktu itu mengemukakan kepada para tokoh masyarakat agar tidak usah lagi melakukan perlawanan terhadap Belanda secara terang terangan, hal ini mengingat kondisi persenjataan yang dimiliki Belanda yang lengkap dan  memiliki serdadu yang banyak, jika terus dilakukan perlawanan maka rakyatlah yang paling menderita.

 

Nasehat H. Bakri dapat diterima oleh para hulubalang, dan beberapa utusan hulubalang itulah pada tahun 1906 menyampaikan langsung kepada Pangeran H. Umar yang tengah melakukan pertempuran dengan Belanda di daerah Pungut. Setelah menerima utusan hulubalang yang menyampaikan pesan tokoh-tokoh masyarakat, maka Pangeran H. Umar dengan berat hati bersedia menghentikan perlawanannya dan selanjutnya menghindar dari Alam Kerinci untuk melanjutkan perjuangan. Di lain pihak, sebagian besar daerah Jambi saat itu telah di duduki dan di kuasai Belanda, sedangkan Pangeran H. Umar bersikukuh tetap melanjutkan perjuangan dan tidak mau menyerah kepada Belanda. Dalam kondisi batin terpukul dengan beban yang sangat berat, keadaan tersebut semakin diperberat karena saat melakukan pertempuran dengan Belanda di Pungut, seorang putrinya ikut gugur dalam medan pertempuran.  

 

SYAHIDNYA SANG MACAN GERILYA

 

Akhirnya secara diam-diam Pangeran H. Umar dan Pangeran Mudo bersama sisa pasukannya melakukan gerakan mundur dari Alam Kerinci melalui Sanggaran Agung terus ke Cermin Kaca turun ke Bangko berbulan-bulan keluar masuk hutan belantara menelusuri kaki bukit Punggung Parang menuju Pemunyian. Dengan mundurnya Pangeran Haji Umar dan Pangeran Mudo serta pasukannya, maka praktis tidak lagi terdengar perlawanan dan pertempuran di Alam Kerinci, Belandapun dengan leluasa menguasai Alam Kerinci dengan aturan yang kemudian dirasa sangat mencekik rakyat.

 

Dalam pada itu  Pangeran Haji Umar dan Pangeran Mudo setelah bergabung kembali bersama Pangeran Diponegoro dan Ratumas Sina di Pemunyian menyusun kekuatan baru. Namun dalam masyarakat Kerinci disepakati oleh semua pihak para ulama, tokoh adat dan hulubalang disebar berita bahwa Pangeran Haji Umar dan Pangeran Mudo telah melarikan diri ke Malaysia.

 

Diusia yang makin renta 87 tahun, kekuatan pasukan kembali coba dibangun dan dibesarkan kembali di Pemunyian, namun usaha tersebut tercium oleh antek-antek Belanda. April 1907. Disanalah Pangeran Haji Umar Puspowijoyo, Pangeran Seman Jayanegara, Pangeran Diponegoro terkepung hebat dalam pertempuran yang tidak seimbang. Pangeran Haji Umar Puspowijoyo, Pangeran Seman Jayanegara, Pangeran Diponegoro ahirnya tewas meregang nyawa, gugur sebagai syuhada ditembus oleh peluru senapan yang dipegang dan diletuskan oleh Belanda asli dan Belando hitam.

 

Di lokasi pertempuran Pemunyian keesokan harinya ditemukan oleh penghulu Muaro Bungo (Sutan Gandam) seorang wanita dalam keadaan terluka parah  diantara mayat yang bergelimpangan. Wanita tersebut adalah Ratumas Sina, kemudian ditangkap Belanda dan setelah sembuh dari luka parahnya dibuang ke Lumajang Jawa Barat.

 

 

SRIKANDI JAMBI RATUMAS SINA YANG TERLUPAKAN


https://youtu.be/NJeYX2RS75k

Ratumas Sina lahir di Kampung Pudak, Kumpeh pada tahun 1887, adalah putri tunggal zuriat pernikahan Datuk Raden Nonot (nama sebenarnya belum ditemukan) dari Suku Kraton dengan Ratumas Milis binti Pangeran Mat Jasir. Ratumas Sina adalah saudara sepupu Ratumas Zainab, sejak bayi sehingga masa kanak-kanak dibesarkan dalam kawasan perkebunan  di Paal 8 belakang kampung Pudak. Diawal tahun 1900 memasuki usia 13 tahun Ratumas Sina dinikahkan dengan salah seorang cucu dari Pangeran Poespo dari kerabat ibunya Permas Kadipan yang beraja di Merangin. Suaminya (belum diketahui namanya) adalah salah seorang anggota pasukan berani mati dibawah komando Wakil Panglima Perang wilayah Merangin (Pangeran Haji Umar) yang juga adalah paman dari Ratumas Sina.

 

Setelah pernikahan tersebut, dimulailah babak baru kehidupan Ratumas Sina mengikuti suaminya berjuang bersama Pangeran Haji Umar sebagai pasukan komando. Pasukan Pangeran Haji Umar sangat disegani dan ditakuti oleh pasukan Belanda karena kemampuan perang gerilya yang taktis dan mematikan dengan salah satu ciri khas senantiasa melakukan penyerangan dimalam hari. Kelompok pasukan ini bergerak dinamis dalam hutan belantara yang lebat antara Merangin sampai ke daerah ulu Muaro Tebo. Belum genap satu tahun pernikahannya 1902, suami Ratumas Sina gugur dalam sebuah serangan terhadap markas pasukan Belanda di Sungai Alai oleh pasukan Pangeran Haji Umar.  

Dalam serangan pasukan Pangeran Haji Umar tersebut banyak serdadu Belanda berhasil dibunuh,  ratusan senjata serta amunisi (misiu) berhasil dirampas untuk digunakan menyerang serdadu Belanda dikesempatan penyerangan berikutnya.

 

Pimpinan pasukan Belanda di Sungai Alai marah besar terhadap Pangeran Haji Umar dan pasukannya memperlakukan mayat suami Ratumas Sina dengan biadap dengan kekejaman yang luar biasa. Kedua tangan mayat dibentangkan pada sebatang kayu serta dipaku serta kulit kepalanya dikocek diletakkan dihaluan sebuah kapal, dipamerkan kepada halayak ramai. Tindakan biadap tersebut dilakukan serdadu Belanda untuk memukul mental rakyat yang membantu perjuangan serta untuk memancing emosi Pangeran Haji Umar dan pasukan agar keluar dan melakukan untuk perlawanan terbuka. Atas pertimbangan untuk perjuangan yang lebih besar Pangeran Haji Umar dan pasukan tidak terpancing dan meneruskan perjalanan menerobos belantara hutan. Sampai saat ini tidak seorang pun yang mengetahui akhir dari nasib yang dialamai mayat suami Ratumas Sina, tak seorangpun yang tahu berapa lama mayat beliau disiksa serta tak juga diketahui dimana pusara atau kuburnya.

 

Dengan ditangkap dan disiksanya mayat suami Ratumas Sina tersebut, justeru semakin membakar semangatnya untuk terus berjuang mengusir penjajah Belanda. Bersama pamannya Pangeran Haji Umar Puspowijoyo, Pangeran Seman Jayanegara, Pangeran Diponegoro (Raden Hamzah) dan pasukan, Ratumas Sina keluar masuk hutan belantara. Setelah penyerangan di Sungai Alai pasukan ini secara berkala terus melakukan serangan mendadak terhadap kedudukan-kedudukan penting serdadu Belanda, antara Ulu Tebo, Muaro Bungo samapai ke Merangin, dalam setiap serangan gerilya yang dilakukan berahir dengan terbunuhnya beberapa serdadu Belanda. Selama mengikuti pergerakan pasukan gerilya tersebut, Ratumas Sina berkesempatan mempelajari ilmu seni bela diri dan ilmu-ilmu kesaktian kanuragan dari paman Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman dan Pangeran Diponegoro serta hulubalang-hulubalang tangguh lainya.

 

Dipenghujung 1904, ketika Pangeran Haji Umar dan pasukan berada disekitar pedalaman batas Muaro Bungo dan Merangin, dating beberapa orang hulubalang utusan dari Alam Kerinci yang menyampaikan berita tentang kelicikan Belanda sehingga wakil Panglima Perang daerah Alam Kerinci (Depati Parbo) tertangkap dalam sebuah jebakan yang dirancang Belanda dan anteknya tuan Regent. Mendengar kabar tersebut Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman (Pangeran Mudo) dan Pangeran Diponegoro serta hulubalang dan pasukannya bersama beberapa hulubalang dari Alam Kerinci menyusun rencana penyerangan terhadap kedudukan serdadu Belanda dan tuan Regent di Alam Kerinci.

 

Dalam perundingan tersebut disepakati Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman dan hulubalang asal Alam Kerinci serta sebagian sisa pasukan akan bergerak naik ke Alam Kerinci, sementara Pangeran Diponegoro, Ratumas Sina dan sisa pasukan mundur kepedalaman kearah yang disepakati menjauh dari daerah-daerah yang telah dikuasai serdadu Belanda. Pasukan Pangeran Diponegoro, Ratumas Sina juga diperintahkan untuk mengurangi serangan gerilya terhadap kedudukan serdadu Belanda di sekitar Merangin dan Muaro Bungo. Mengingat kekuatan pasukan sudah terbagi, penyerangan hanya dilakukan apabila sangat perlu dan diperkirakan menang dengan telak, serta serdadu Belanda berada jauh dari balabantuan. Pangeran Diponegoro dan Ratumas Sina juga mendapat tugas memperkuat pasukan dengan merekrut para pendekar-pendekar dan orang-orang pilihan disekitar Muaro Bungo dan Tanah Sepenggal yang bersedia bergabung melanjutkan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam perjalananya Pangeran Diponegoro dan Ratumas Sina beserta pasukan menuju suatu tempat yang tersembunyi diperbatasan antara Muaro Bungo dan Alam Kerinci yang kemudian disebut dengan Pemunyian, disanalah dilakukan penggalangan kekuatan baru.

 

 

 

Akhir Kehidupan Ratumas Sina

 

Takdir perjalanan hidup anak manusia memang tak dapat direncanakan dan tak seorangpun yang tahu pasti,  7 tahun di Lumajang sebagai manusia buangan penjajah, Ratumas Sina ahirnya dilamar menjadi isteri oleh Sutan Gandam, seorang penghulu di Muaro Bungo dari suku Minang (Padang) pada masa penjajahan Belanda. Sutan Gandam adalah duda dengan beberapa orang anak yang telah menemukan Ratumas Sina bersimbah darah di medan pertempuran Pemunyian. Jadilah Ratumas Sina janda kembang orang buangan Belanda itu sebagai isteri Sutan Gandam diusianya terhidung masih muda yaitu 27 tahun dan selanjutnya diboyong pulang oleh suami dari tanah pembuangan.

 

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, kiranya pernikahan tersebut sangat ditentang oleh anak-anak Sutan Gandam, belum satu tahun pernikahannya Ratumas Sina diasingkan suaminya ketengah hutan di Muaro Bungo agar terjauh dari siksaan jasmani dan batin yang dibuat oleh anak-anak tirinya. Ditengah hutan lebat itu Ratumas Sina sendiri tertatih tatih merajut harapan, namun wanita pendekar yang pernah menjadi pejuang sejak usia belia itu tak pernah menyalahkan orang lain, hanya kepada Allah SWT tempat ia berserah diri dan tawakkal. Berbulan-bulan dalam kesendirian dikebun tidak membuatnya putus asa Ratumas Sina telah tertempah dengan baik oleh pengalaman selama 7 tahun dalam perjuangan bersama Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman, Pangeran Diponegoro dan pasukan. Perutnya terbiasa diisi dengan makan pucuk-pucuk kayu kayan, buah-buahan hutan dan umbi-umbian liar yang boleh dimakan dan banyak dijumpai dalam hutan belantara, hidupnya terbiasa dalam belantar hutan.

 

Disuatu hari ketika menjelang waktu dzuhur, ketika Ratumas Sina menumbuk cabe dengan sebatang kayu untuk membuat sambal diatas sebuah batang kayu besar yang telah roboh, ia pandangi langit. Didapatinya suatu keanehan pada langit, pada langit terbentuk sebuah lobang besar yang memancarkan sinar yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, hatinya membatin mungkin inilah pintu langit yang terbuka itu.  Sejak itulah secara perlahan rezekinya diperoleh secara perlahan, kebun yang dibangun menjadi dan apapun yang diusahakan memberikan hasil yang diluar dugaan banyaknya. Kekayaan dan harta dunia miliknya mulai berlimpah, satu persatu orang-orang yang membenci dan membuangnya mulai merapat, seiring waktu jadilah Ratumas Sina sebagai salah seorang yang terkaya di Muaro Bungo.  “Srikandi” itu telah kembali kehadirat Allah SWT, diusia 80 tahun.

 

 

Sumber :

Perjuangan Rakyat Kerinci, Dpt. Alimin

Dialog sejarah yang diselenggarakan oleh Museum Perjuangan Rakyat Jambi pada 12 Juli 2012

Sabaruddin Akhmad, Srikandi dan Wira KadipanDalam Perlawanan Terhadap Penjajahan Belanda (www.sabarudin6kadipan.blogspot.com/2014/11/srikandi-dan-wira-kadipan-dalam.html)


Kamis, 21 Maret 2019

MENELUSURI JEJAK KARYA LELUHUR DI NEGERI SERIBU MENHIR PASEMAH


#M. Ali Surakhman

Pasemah adalah satu wilayah di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, Provinsi Sumatra Selatan. Daerah ini secara georafis merupakan suatu wilayah dataran tinggi, dan posisinya masih satu rangkaian dengan Bukit Barisan di pulau Sumatra. Hutan alam tropis dengan kondisi perbukitan batu-batu cadas, merupakan satuan batuan beku dengan jenis batuan andesit, dan dilalui oleh beberapa anak sungai (wilayah Batang Hari Sembilan), adalah daerah yang subur dan sangat potensial bagi kehidupan masyarakat purba atau prasejarah, dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup mereka yang secara naluriah dan adaptif masih lebih mengandalkan ketersediaan bahan makanan dari alam
Di bumi Pasemah ini banyak ditemukan artifak purba tinggalan budaya Megalitikum (Batu Besar), seperti: Patung Batu, Kubur Batu, Lukisan Dinding Kubur Batu, Batu Bergores, Gambar Gores di Dinding Cadas, Dolmen, Lumpang Batu, Menhir, dan lain sebagainya. Wilayah sebar budaya Megalitikum Indonesia ditemukan di beberapa tempat diantaranya: Sumatra, Nias, Jawa, Bali, Sumba, Sulawesi, dan lain-lain. R.P. Soejono mengatakan, “di Indonesia tradisi megalitik muncul setelah tradisi bercocok-tanam atau bertani food-froducing mulai meluas, diperkirakan sejak zaman Neolitikum sampai dengan zaman Logam – Perunggu”.
 Luasnya wilayah sebar dan banyaknya temuan artifak megalitik di bumi Pasemah ini, tentunya memunculkan banyak pula permasalahan yang menarik untuk dikaji atau diungkapkan segala sesuatu yang melingkupi patung megalitik peninggalan budaya prasejarah di Pasemah, baik dalam hal perupaan, nilai estetis, makna simbolis, dan termasuk pula nilai-nilai magis – mistis sesuai nilai-nilai kosmologi yang menyertainya.
Menurut para peneliti terdahulu seperti A. N. J. Th. A. Th Van der Hoop (1930 – 1931), dikatakan bahwa di bumi Pasemah ini ditemukan 22 (dua puluh dua) buah lingkungan situs megalitik dari masa prasejarah. Demikian pula pada kegiatan survei situs-situs Megalitik di Kabupaten Lahat – Provinsi Sumatra Selatan, yang dilakukan oleh tim peneliti dari Proyek Balai Arkeologi 134 Erwan Suryanegara, et al.
 Palembang di tahun 1996, dilaporkan bahwa telah berhasil disuvei sebanyak 19 (sembilan belas) lingkungan situs. Berdasarkan studi literatur ternyata tidak seluruh situs yang ada tersebut memiliki artifak yang berupa patung megalitik, dan disebutkan pula bahwa di beberapa situs yang memang memiliki artifak patung megalitik, sebagian kondisi patungnya sudah tidak lengkap dan rusak berat, sehingga sangat sulit untuk dikenali wujudnya.
 Baik di wilayah kabupaten Lahat maupun di kota Pagaralam, seperti situs Belumai, Geramat, Karang Dalam, Muara Danau, Pagaralam Pagun, Tanjung Ara, Tanjung Sirih (oleh beberapa peneliti sebelumnya sering disebut juga sebagai situs Pulaupanjang), Tanjung Telang, Tebat Sibentur, Tebing Tinggi, Tegur Wangi, dan Tinggi Hari. Di antara beberapa situs tersebut ada yang kondisi patungnya rusak parah, bahkan sebagian besar kepalanya sudah hilang, sehingga akan menyulitkan ketika melakukan identifikasi secara men-detail. Ada juga yang patungnya sebagian besar masih terkubur di dalam tanah atau belum diangkat ke permukaan, serta dijumpai pula beberapa situs yang memang tidak memiliki artifak patung megalitik.
 Menurut Van der Hoop, umumnya material batuan yang ada di bumi Pasemah tergolong batuan beku dari jenis batuan “andesit”, yang secara visual ciri-cirinya dapat dikenali melalui warna batu-batuan tersebut. Batuan jenis andesit ini cenderung berwarna putih keabu-abuan menuju kehitam-hitaman, biru gelap, kuning, dan atau coklat kemerah-merahan. Berdasarkan analisis kimiawi yang dilakukan oleh Colonial Institute, Amsterdam yang bekerja sama dengan Mineralogical and Geological Institute of The State – University, Utrecht, terhadap batuan yang contohnya berasal dari situs Tegur Wangi, dapat diketahui bahwa jenis batuan andesit di Pasemah ini terbentuk atas senyawa beberapa unsur kimia seperti: SiO2, Pb, Ca, Na, Fe, Al, dan K. Batuan beku jenis batuan andesit ini memang tergolong jenis batu yang baik untuk dijadikan bahan pembuatan patung .
 Bila memperhatikan secara keseluruhan wilayah sebaran situs-situs megalitik di bumi Pasemah, akan tampak adanya kepekaan tertentu pada masyarakat prasejarah Pasemah dalam memilih lokasi. Di lingkungan situs pilihan manusia prasejarah tersebut sudah tersedia secara alami bahan berupa bongkahan batu-batu besar yang mempermudah mereka dalam pembuatan artifak batu monumental, bahkan secara umum lokasinya tidak jauh dari sungai atau sumber air lainnya.
 Manusia pendukung budaya megalitik sudah mengenal dan bahkan sudah memanfaatkan alat kerja yang terbuat dari bahan logam. Mereka sudah memiliki kemampuan sangat baik dalam memahat batu-batu besar dengan sudut-sudut yang tajam atau runcing, dan secara bentuk patung-patung itu tampak sudah memiliki garis-garis kontur yang begitu dinamis. Untuk dapat menghasilkan artifak-artifak patung seperti itu tentunya membutuhkan mata pahat yang bukan sekedar terbuat dari batu api saja, namun menggunakan pahat bermata logam yang sangat memungkinkan untuk itu. Namun bila dilihat dari sifat, bentuk, dan termasuk perkiraan fungsinya, artifak-artifak megalitik itu memperlihatkan adanya kelanjutan dari budaya sebelumnya yakni zaman Batu Baru.
 Selain kecenderungan di atas, pada batu gores, gambar di dinding kubur batu maupun patung-patung batu besar tersebut, terlihat adanya atribut yang mengindikasikan terbuat dari bahan logam atau perunggu (nekara, pedang, gelang, kalung, dan anting-anting), baik yang dikenakan maupun sedang dibawa Artifak Purba Pasemah oleh orang atau tokoh seperti sosok yang mereka patungkan atau pahatkan. Para peneliti  juga menyebutkan, bahwa patung megalitik merupakan satu jenis artifak dari temuan tinggalan yang terbanyak jumlah satuannya, dibandingkan artifak megalitik lainnya di Pasemah.
 Ketika manusia awal memulai hidup dan kehidupannya di muka bumi, mereka adalah pioneer tentu sangat wajar bila dalam berbagai hal menyangkut kehidupannya masih hidup dalam taraf serba sederhana. Secara kodrati dalam hidupnya manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan baik yang bersifat material (fisik) maupun spiritual (rohani). Untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya itu, maka manusiapun menciptakan segala sesuatu sesuai kebutuhan atau membuat piranti sebagai alat bantunya. Keberadaan piranti-piranti itu ada yang berwujud (kongkrit) benda-benda dan ada pula yang tak berwujud (abstrak) seperti aturan-aturan, nilai-nilai, bahasa, kesenian, kepercayaan, dan sebagainya. Sehubungan dengan hal-hal yang menyangkut kebutuhan dan upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia itulah, yang kemudian dalam batasan tertentu disebut kebudayaan.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian pada temuan artifak purba para ahli prasejarah sepakat, bahwa pada saat kebudayaan Neolitikum masih berlangsung ternyata manusia prasejarah memiliki pula kecenderungan memanfaatkan batu besar dalam aktivitas kehidupannya, khususnya yang berkaitan dengan keberadaan “arwah” dalam aktivitas kerohaniannya. Penggunaan media yang berupa batu-batu besar dikenal sebagai era kebudayaan Batu Besar (Megalitikum). Tradisi penggunaan batu besar ini ternyata terus berlangsung hingga masuk ke zaman kebudayaan logam, bahkan menurut para ahli di zaman Logam inilah kebudayaan Megalitikum itu mencapai puncak kesempurnaannya, mengingat sudah dipergunakannya alat-alat yang terbuat dari bahan logam.
Dari patung-patung yang berobjek tunggal, jelas bahwa para pematung Pasemah di kala itu memang merupakan pematung batu yang handal dan berkualitas. Patung manusia membawa nekara di Belumai III termasuk salah satu dari artifak patung megalitik Pasemah yang kondisinya masih lengkap. Patung di Belumai III ini secara teknis juga tergolong sempurna, karena dilihat dari unsur-unsur visualnya seperti karakter garis, volume, tekstur, warna, dan bentuk.
 Patung megalitik di Pasemah berbeda dengan patung megalitik lainnya, sehinggga tidak dapat dijadikan objek pembanding bagi patung megalitik Nusantara. Pendapat ini diungkapkan oleh Haris Sukendar sebagai seorang pakar megalitik Indonesia, yang sepakat akan hal itu bahkan menambahkan, bahwa patung megalitik di Pasemah itu memiliki keunikannya yang “tersendiri” dan tidak dimiliki oleh patung megalitik lainnya yang sezaman. Lebih lanjut menurut Haris, di wilayah lain patung megalitik yang sezaman masih tergolong “arca menhir”, dicirikan dalam hal perwujudannya bersifat statis-frontal dan masih sederhana (cenderung lebih mengutamakan kepala), atau belum selengkap seperti perupaan sosok tubuh pada patung megalitik di Pasemah.
Pesona menhir di bumi Pasemah, membuktikan tingkat kemajuan peradaban kebudayaan leluhur zaman dahulunya,  dan menhir menhir ini menjadi museum alam yang mana dapat menjadi objek pendidikan buat generasi muda dalam memahami sejarah,budayanya,yang selanjutnya terbentuk pemikiran buat melindungi cagar budaya,melestarikan dalam tindakan penjagaan dari kerusakan kerusakan, secara jangka panjang pengamatan terhadap menhir pasemah di harapkan dapat membentuk karakteristik generasi yang paham akan budaya bangsanya.
#M. Ali Surakhman
http://haluanews.com/menelusuri-jejak-karya-leluhur-di-negeri-seribu-menhir-pasemah/

Sabtu, 22 September 2018

JEJAK TINGGALAN TRADISI ZAMAN PERUNGGU DI BUMI SERIBU SYAIR


Dataran tinggi Kerinci dapat dikatakan merupakan kawasan pedalaman yang jauh dari jalur perdagangan maritim. Selain itu juga bergunung-gunung dan berbukit-bukit dengan sungai-sungai bertebing terjal, sehingga menghambat mobilitas horisontal. Namun, ternyata kawasan tersebut tidak benar-benar terisolasi. Museum Nasional Jakarta mengumpulkan temuan lepas dari Kerinci berupa tiga buah benda keramik Cina dari dinasti Han (abad ke-1 – 3 M). Menurut Abu Ridho, ketiga benda keramik tersebut berupa bejana penjenazahan dari dinasti Han (abad 1 – 2 M), mangkuk sesaji dari dinasti Han (abad ke-1 – 3 M), dan guci tempat anggur bertutup dari dinasti Han (abad 1 – 2 M) (1979:105 – 118). Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha pun hampir tidak terlihat di Kerinci dan Merangin. Hingga kini belum ditemukan situs-situs Hindu-Budha di kedua wilayah tersebut, tetapi di Kerinci ditemukan arca lepas berupa dua buah arca Boddhisattwa perunggu berukuran kecil (tinggi 16 cm) (Schnitger,1937:13).

Keramik Cina dari dinasti Sung (960 – 1270 M) banyak ditemukan di dataran tinggi Kerinci, dan daerah lembah kaki Gunung Raya . Temuan tersebut membuktikan bahwa ketika di dataran rendah Jambi berkembang pesat kerajaan Malayu bercorak Budis, di dataran tinggi Jambi bertahan kehidupan bercorak tradisi megalitik. Bahkan tradisi megalitik di dataran tinggi Kerinci bertahan hingga kedatangan Islam. Tradisi megalitik di kawasan tersebut tampaknya baru berakhir pada abad ke-18,

Masyarakat bercorak tradisi megalitik di dataran tinggi Kerinci mungkin sekali menghuni lahan di sekitar batu monolit yang mempunyai nama lokal batu gong, batu bedil atau batu larung. Bukti-bukti hunian di sekitar batu megalitik ditemukan dalam ekskavasi Bagyo Prasetyo tahun 1994 di Bukit Talang Pulai, Kerinci . Tinggalan artefak menonjol di situs megalit adalah pecahan tembikar yang merupakan bukti pemukiman.

Kehidupan bercorak megalitik di dataran tinggi Kerinci telah mengenal pula penguburan dengan wadah tempayan tanah liat sebagaimana di dataran tinggi Sumatera Selatan (lihat Soeroso,1998). Di desa Renah Kemumu, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, ditemukan tinggalan megalit di Bukit Batu Larung, tetapi juga puluhan tempayan tanah liat insitu di suatu tempat yang berjarak sekitar 1 kilometer dari megalit. Keadaan tinggalan tempayan-tempayan tersebut tidak utuh karena pengaruh erosi dan aktivitas manusia sekarang yang menghuni situs tersebut. Melalui analisis C-14 yang dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, arang yang ditemukan dalam tempayan diketahui berumur 810 ± 120 BP (tahun 1020 - 1260 M). Sementara itu, situs Bukit Batu Larung berumur 970 ± 140 BP (tahun 840 -1120).

Hasil awal tradisi melagitik yang belum mengenal tulisan, yang di kenal juga dengan tradisi lisan ini salah satunya upacara ritual Asyeik. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan upacara ritual suku Kerinci, upacara ritual ini merupakan upacara pemanggilan roh-roh nenek moyang, dengan mengunakan obyek-obyek tertentu ( pusaka, tumbuh-tumbuhan, makanan, batu-batuan ) dengan tujuan untuk menolak bala dan menuntun anak cucu (masyarakat Kerinci) kearah kebenaran dan kebaikan.

Tradisi lisan merupakan identitas komunitas  dan salah satu sumber penting dalam pembentukan karakter bangsa melalui nilai-nilai luhur yang diwariskannya. Tradisi lisan juga dapat menjadi pintu masuk guna memahami permasalahan yang dihadapi masyarakat pendukung tradisi tersebut. Di dalam tradisi itu, kita dapat mengenal kehidupan komunitas suatu masyarakat mulai dari kearifan lokal, sistem nilai, pengetahuan tradisional, sejarah, hukum adat, pengobatan, sistem kepercayaan dan relegi.
Kebudayaan Bacson-Hoabinh diperkirakan berasal dari tahun 10.000 SM-4000 SM, kira-kira tahun 7000 SM.  Kebudayaan ini berlangsung pada kala Holosen. Awalnya masyarakat Bacson-Hoabinh hanya menggunakan alat dari gerabah yang sederhana berupa serpihan-serpihan batu tetapi pada tahun 600 SM mengalami perubahan dalam bentuk batu-batu yang menyerupai kapak yang berfungsi sebagai alat pemotong. Ciri khas alat-alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran ± 1 kepalan dan seringkali seluruh tepiannya menjadi bagian yang tajam. Hasil penyerpihannya itu menunjukkan berbagai bentuk seperti lonjong, segi empat, segitiga dan beberapa di antaranya ada yang mempunyai bentuk berpinggang. Alat-alat dari tulang dan sisa-sisa tulang belulang manusia dikuburkan dalam posisi terlipat serta ditaburi zat warna merah. Kebudayaan Bacson-Hoabinh ini diperkirakan berkembang pada zaman Mesolitikum.
Pusat kebudayaan zaman Mesolitikum di Asia berada di dua tempat yaitu di Bacson dan Hoabinh. Kedua tempat tersebut berada di wilayah Tonkin di Indocina (Vietnam). Istilah Bacson Hoabinh pertama kali digunakan oleh arkeolog Prancis yang bernama Madeleine Colani pada tahun 1920-an. Nama tersebut untuk menunjukkan tempat pembuatan alat-alat batu yang khas dengan ciri dipangkas pada satu atau dua sisi permukaannya.

Menurut C.F. Gorman dalam bukunya The Hoabinhian and after : Subsistance patterns in South East Asia during the latest Pleistocene and Early Recent Periods (1971) menyatakan bahwa penemuan alat-alat dari batu paling banyak ditemukan dalam penggalian di pegunungan batu kapur di daerah Vietnam bagian utara, yaitu di daerah Bacson pegunungan Hoabinh.
Di samping alat-alat dari batu yang berhasil ditemukan, juga ditemukan alat-alat serpih, batu giling dari berbagai ukuran, alat-alat dari tulang dan sisa tulang belulang manusia yang dikubur dalam posisi terlipat serta ditaburi zat warna merah.
Sementara itu, di daerah Vietnam ditemukan tempat-tempat pembuatan alat-alat batu, sejenis alat batu dari kebudayaan Bacson-Hoabinh. Bahkan di Gua Xom Trai  (dalam buku Pham Ly Huong ; Radiocarbon Dates of The Hoabinh Culture in Vietnam, 1994) ditemukan alat-alat batu yang sudah diasah pada sisi yang tajam. Alat-alat batu dari Goa Xom Trai tersebut diperkirakan berasal dari 18.000 tahun yang lalu,  kemudian dalam perkembangannya alat-alat dari batu atau yang dikenal dengan kebudayaan Bacson-Hoabinh tersebar dan berhasil ditemukan hampir di seluruh daerah Asia Tenggara, baik darat maupun kepulauan, termasuk wilayah Indonesia.

Hasil-hasil Kebudayaan Bacson-Hoabinh di Indonesia adalah, kapak genggam, kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit karang tersebut dinamakan dengan pebble atau kapak Sumatera (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu di Kerinci pulau Sumatera, kapak dari tulang dan tanduk, di sekitar daerah Nganding dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun (Jawa Timur), Flakes adalah berupa alat alat kecil terbuat dari batu yang disebut dengan flakes atau alat serpih. Flakes selain terbuat dari batu biasa juga ada yang dibuat dari batu-batu indah berwarna seperti calsedon, dan Kjokkenmoddinger adalah bukit-bukit sampah kerang yang berdiameter sampai 100 meter dengan kedalaman 10 meter. Peninggalan ini ditemukan di Sumatra. Lapisan kerang tersebut diselang-selingi dengan tanah dan abu. Tempat penemuan bukit kerang ini pada daerah dengan ketinggian yang hampir sama dengan permukaan air laut sekarang dan pada kala Holosen daerah tersebut merupakan garis pantai.

Kebudayaan Bacson - Hoabinh yang terdiri dari pebble, kapak pendek serta alat-alat dari tulang masuk ke Indonesia melalui jalur barat. Sedangkan kebudayaan yang terdiri dari flakes masuk ke Indonesia melalui jalur timur.

Pengaruh utama budaya Hoabinh terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat terbuat dari batu. Beberapa ciri pokok budaya Bacson-Hoabinh ini antara lain: Pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu. Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai. Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisi batu. Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Ada yang berbentuk lonjong, segi empat, segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Pengaruh budaya Hoabihn di Kepulauan Indonesia sebagian besar terdapat di daerah Sumatra. Hal ini lebih dikarenakan letaknya yang lebih dekat dengan tempat asal budaya ini.

Kebudayaan Dongson. Sejarah awal kebudayaan Dongson adalah kebudayaan zaman Perunggu yang berkembang di Lembah Sông Hồng, Vietnam. Kebudayaan ini juga berkembang di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia dari sekitar 1000 SM sampai 1 SM.
Kebudayaan Dongson ini berawal dari evolusi kebudayaan Austronesia. Asal usulnya sendiri telah dicari adalah bangsa Yue-tche yang merupakan orang-orang barbar yang muncul di barat daya China sekitar abad ke-8 SM. Kebudayaan Dongson secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai hasil karya kelompok bangsa Austronesia yang terutama menetap di pesisir Annam, yang berkembang antara abad ke-5 hingga abad ke-2 Sebelum Masehi. Kebudayaan ini sendiri mengambil nama situs Dongson di Tanh hoa.

Pengolahan logam menunjukkan taraf kehidupan yang semakin maju, sudah ada pembagian kerja yang baik, masyarakatnya sudah teratur. Teknik peleburan logam merupakan teknik yang tinggi. Pendukung kebudayaan ini adalah bangsa Austronesia, juga pendukung kapak persegi.
Pengetahuan mengenai perkembangan kebudayaan logam ini mulai banyak dikenal setelah Payot mengadakan penggalian di sebuah kuburan Dongson (Vietnam) pada tahun 1924. Namun perlu diketahui bahwa benda-benda perunggu yang telah ada sebelum tahun 500 SM terdiri atas kapak corong (corong merupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya) dan ujung tombak, sabit bercorong, ujung tombak bertangkai, mata panah dan benda-benda kecil lainnya seperti pisau, kail, gelang dan lain-lain.

Penemuan benda-benda dari kebudayaan Dongson sangat penting karena benda-benda logam yang ditemukan di wilayah Indonesia umumnya bercorak Dong Son, dan bukan mendapat pengaruh budaya logam dari India maupun Cina. Budaya perunggu bergaya Dongson tersebar luas di wilayah Asia Tenggara dan kepulauan Indonesia. Hal ini terlihat dari kesamaan corak hiasan dan bahan-bahan yang dipergunakannya. Misalnya nekara, menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Nekara dari tipe Heger 1 memiliki kesamaan dengan nekara yang paling bagus dan tertua di Vietnam. Benda-benda perunggu lainnya yang berhasil ditemukan di daerah Dongson serta beberapa kuburan seperti daerah Vie Khe, Lang Cha, Lang Var. Satu nekara yang ditemukan yang besar berisi 96 mata bajak perunggu bercorang. Dari penemuan itu terdapat alat-alat dari  besi, meskipun jumlahnya sangat sedikit. Dari penemuan benda-benda budaya Dongson itu, diketahui cara pembuatannya dengan menggunakan teknik cetak lilin hilang yaitu dengan membuat bentuk benda dari lilin, kemudian lilin itu di balut dengan tanah liat dan dibakar hingga terdapat lubang pada tanah liat tersebut.


Budaya Dongson sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan budaya perunggu di Indonesia. Bahkan tidak kurang dari 56 nekara yang berhasil ditemukan di beberapa wilayah Indonesia dan terbanyak nekara ditemukan di Sumatera Kerinci , Jawa, Maluku Selatan.


Benda-benda arkeologi dari Dongson sangat beraneka ragam, karena mendapat berbagai macam pengaruh dan aliran. Hal tersebut nampak dari artefak-artefak kehidupan sehari-hari ataupun peralatan bersifat ritual yang sangat rumit sekali. Perunggu adalah bahan pilihan. Benda-benda seperti kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak, topangan berkaki tiga dengan bentuk yang kaya dan indah. Kemudian gerabah dan jambangan rumah tangga, mata timbangan dan kepala pemintal benang, perhiasan-perhiasan termasuk gelang dari tulang dan kerang, manik-manik dari kaca dan lain-lain. Semua benda tersebut atau hampir semuanya diberi hiasan. Bentuk geometri merupakan ciri dasar dari kesenian ini diantaranya berupa jalinan arsir-arsir, segitiga dan spiral yang tepinya dihiasi garis-garis yang bersinggungan.

Dari motif-motif yang dijumpai pada nekara yang sering disebut-sebut sebagai nekara hujan, ditampilkan dukun-dukun atau syaman-syaman yang kadang-kadang menyamar sebagai binatang bertanduk, menunjukkan pengaruh China atau lebih jauhnya pengaruh masyarakat kawasan stepa. Jika bentuk ini disimbolkan sebagai perburuan, maka ada lagi simbol yang menunujukkan kegiatan pertanian yakni matahari dan katak (simbol air). Sebenarnya, nekara ini sendiri dikaitkan dengan siklus pertanian. Dengan mengandalkan pengaruh ghaibnya, nekara ini ditabuh untuk menimbulkan bunyi petir yang berkaitan dengan datangnya hujan.

Pada nekara-nekara tersebut, yang seringkali disimpan di dalam makam terlihat motif perahu yang dipenuhi orang yang berpakaian dan bertutup kepala dari bulu burung. Hal tersebut boleh jadi menggambarkan arwah orang yang sudah mati yang berlayar menuju surga yang terletak di suatu tempat di kaki langit sebelah timur lautan luas. Pada masyarakat lampau, jiwa sering disamakan dengan burung dan mungkin sejak periode itu hingga sekarang masih dilakukan kaum syaman yang pada masa kebudayaan Dongson merupakan pendeta-pendeta menyamar seperti burung agar dapat terbang ke kerajaan orang-orang mati untuk mendapatkan pengetahuan mengenai masa depan.

Lagi pula nekara-nekara tersebut sendiri didapatkan pada awal abad ke-19 masih digunakan untuk upacara ritual keagamaan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pada nekara tesebut digambarkan kehidupan orang-orang Dongson mulai perburuan, pertanian hingga kematian.

Banyaknya perlengkapan pemakaman tersebut menunjukkan ritual yang dilakukan masyarakat Dongson. Antara lain masalah jenazah yang dikelilingi semua benda-benda sehari-hari miliknya agar dapat hidup secara normal di alam baka. Belakangan sebagai upaya penghematan, yang ikut dikuburkan bersama jenazah adalah benda-benda berukuran kecil saja. Kemudia pada masa akhir kebudayaan Dongson, muncul bentuk ritual baru. Sebelumnya makamnya berbentuk peti mati sederhana dari kayu yang dikubur, sementara pada berikutnya yang dinamakan periode Lach-truong, yang mungkin diawali pada abad pertama sebelum Masehi, telah ditemukan makam dari batu bata yang berbentuk terowongan atau lebih tepatnya gua yang terbagi menjadi tiga kamar oleh tembok-tembok lengkung beratap. Semula perlengkapan ini dikait-kaitkan dengan pengaruh Yunani tentang kehidupan alam baka, meski sebenarnya menunjukkan pengaruh China yang terus-terus bertambah besar yang beranggapan bahwa arwah orang mati bersembunyi dalam gua-gua yang terdapat di lereng-lereng gunung suci, tempat bersemayam para arwah yang abadi.

Makam yang berbentuk terowongan itu boleh dikatakan tiruan dari gua alam gaib tersebut. Peletakan peti mati di kamar tengah, kemudian di ruangan bersebelahan ditumpuk sesajen sebagai makanan untuk arwah dan ruangan ketiga disediakan altar yang terdapat lampu-lampu yang dibawa atau dijaga oleh patung-patung terbuat dari perunggu. Secara sekilas terasa pengaruh Hellenisme yang menandai akhir kebudayaan Dongson.

Hubungan tradisi lisan dalam ritual Asyeik di Kerinci di mulai saat pertebaran bangsa Austronesia (MelayuTua) yang berlangsung pada zaman Prahistoria antara (10.000-2.000) tahun SM dengan ditemukan alat-alat Neolitikum. Alat-alat prahistoria yang sangat tua dan unik itu salah satunya ditemukan di dataran tinggi daerah Kerinci. Khusus mengenai alat serpihan obsidian, daerah Kerinci disebut menjadi inti dari kebudayaan alat serpih (flakes culture) termasuk dalam zaman Mesolitikum. Peninggalan bersejarah dari masa prahistoria di Kerinci sejenis menhir batu, keadaannya sangat unik berbentuk silindrik dengan posisi tergeletak di permukaan tanah. Posisi semacam ini belum pernah di temukan pada daerah  lainnya di Indonesia, keadaan silindrik di Kerinci merupakan penyimpangan dari tradisi umum megalitik di Indonesia. Batu silindrik yang ada di Kerinci saat sekarang sebanyak tujuh buah, bermotifkan relief manusia kangkang, matahari, lingkaran aura dan sebagainya. Ada yang polos tanpa motif, secara kronologis  berasal dari masa 12.000 tahun SM. Motif ini berhubungan erat dengan bentuk tarian dan alat yang di gunakan pada upacara ritual “Asyeik”.

Benda-benda yang berasal dari zaman perunggu yang di temukan di daerah Kerinci yaitu gelang, giring-giring, cakram, nekara dan sebuah bejana. Nekara perunggu Kerinci termasuk dalam kelompok Heger –1, menunjukan persamaan dengan temuan di Dongson dan Phom Penh. Sedangkan bejana perunggu memiliki motif persamaan dengan seni hias yang terdapat pada bangunan tradisional Kerinci, serta pada bangunan ibadah lainnya.  Benda-benda  perunggu ini dikatakan sebagai peninggalan zaman Paleometalik berasal dari 1.000-500 tahun SM.

Temuan tertua lain di daerah Kerinci berupa keramik kuno yang berasal dari masa pemerintahan Dinasti Han di Cina (Tahun 202 SM-221 Masehi). Adanya keramik Han di daerah Kerinci, memperkuat dugaan kita akan kemampuan penduduk prasejarah Kerinci dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan daratan Cina. Besar kemungkinan daerah Kerinci pada zaman itu sebagai pusat sebuah peradaban tertua di Sumatra, mengingat catatan yang di buat oleh K’ang-tai dan Wan-Chen dari dinasti wangsa Wu (222-280 SM), diterangkan sebuah kerajaan di Sumatra terdapat banyak gunung api dan di selatannya ada sebuah teluk bernama Wen.

Dari penggalian arkeologi di dataran tinggi Kerinci, merupakan salah satu sasaran penelitian arkeologi sejak tahun 1932 dengan perintisnya adalah A.N.J.Th a Th van der Hoop. Tinggalan menonjol di kawasan tersebut adalah alat obsidian dan megalit. Sejak tahun 2005 mulai ditemukan sejumlah situs kubur tempayan yang berasosiasi dengan tinggalan megalit, sehingga diperkirakan kedua unsur budaya tersebut hidup sezaman.  Penelitian kubur tempayan selama ini mengungkapkan bahwa di dataran tinggi Kerinci berkembang tradisi penguburan dengan tempayan sebagaimana terdapat juga di berbagai situs arkeologi di Indonesia. Penelitian kubur tempayan juga mengungkapkan adanya pemberian bekal kubur yang menunjukkan kepercayaan adanya kehidupan setelah mati.

Penelitian kubur tempayan  di Desa Muak, Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang dilaksanakan pada bulan Juli 2007 merupakan salah satu rangkaian penelitian yang dilakukan sebelumnya yang bertujuan untuk merekonstruksi aspek-aspek kehidupan tradisi megalitik di dataran tinggi Jambi. Penelitian tersebut dipimpin oleh Drs. Tri Marhaeni SB dengan anggota inti Sondang M. Siregar, SS (arkeolog), Sigit Eko Prasetyo, S.Hum (arkeolog), dan Armadi, ST (pemetaan).

Ekskavasi di Desa Muak dilakukan di tiga tempat, yaitu dua situs kubur tempayan dan satu situs megalit.  Di situs Ulu Muak dibuka satu lobang ekskavasi  berukuran 2x2 meter. Di kotak tersebut ditemukan lima buah wadah tembikar yang bentuk dan ukurannya bervariasi serta kedalaman penemuannya berbeda. Temuan wadah yang dikenali tiga buah, yaitu satu buah periuk bertutup periuk, satu buah tempayan bertutup belanga, dan satu buah guci bertutup  pasu. Dalam tempayan tidak ditemukan tinggalan arkeologis.

Ekskavasi kubur tempayan lainnya dilakukan di situs Dusun Baru Muak. Situs ini terletak sekitar 150 meter dari Ulu Muak. Di situs Dusun Bartu Muak dibuka empat kotak ekskavasi yang masing-masing berukuran 2x2 meter. Ekskavasi tersebut menemukan enam buah wadah tembikar yang diperkirakan semuannya berbentuk tempayan. Keadaannya retak dan pecah, sehingga tidak dapat dikenali bentuknya. Dalam tempayan tidak ditemukan tinggalan arkeologis. Dibanding dengan temuan di Ulu Muak, wadah tembikar dari situs ini lebih homogen bentuknya (mungkin semuanya tempayan) serta lebih besar ukurannya. Wadah tembikar yang dipergunakan sebagai wadah kubur di Ulu Muak pun berbeda bentuknya dengan yang ditemukanb di Lolo Gedang, sebuah situs kubur tempayan lain yang berada sekitar 2,3 km dari Ulu Muak.

 Ekskavasi delapan buah kotak berukuran 2x2 meter dilakukan di situs Batu Patah, sekitar 500 meter dari Ulu Muak. Ekskavasi  dimaksudkan untuk mengetahui lapisan budaya di sekitar megalit karena di permukaan situs telah ditemukan pecahan tembikar dari galian cangkul untuk menanam ubi jalar. Ternyata lapisan budaya dengan temuan menonjol pecahan wadah tembikar  terbatas pada lapisan lempung coklat di atas lanau kuning. Kedalamannya  dari permukaan tanah bervariasi antara 40--60 cm. Temuan lapisan budaya ini sekaligus membuktikan bahwa di sekitar megalit terdapat hunian yang diperkirakan sezaman karena pola demikian ditemukan pula di situs-situs di dataran tinggi Jambi lainnya. Perbedaannya dengan situs-situs lainnya di kawasan yang sama, yaitu keletakan antara megalit dan kubur tempayan di Muak lebih berdekatan (sementara ini 500 meter), sedangkan di tempat lain tidak kurang dari 1 km.

Dari pengalian arkeologi ini menegaskan tradisi lisan dalam ritual Asyeik sudah ada sejak zaman pra-aksara dimana zaman ketika manusia belum mengenal tulisan, ditandai dengan belum ditemu­kannya keterangan tertulis mengenai kehidupan manusia. Periode ini ditandai dengan cara hidup berburu dan mengambil bahan makanan yang tersedia di alam. Pada zaman pra-aksara pola hidup dan berpikir manusia sangat bergantung dengan alam. Tempat tinggal mereka berpindah-pindah berdasarkan ketersediaan sumber makanan. Zaman pra-aksara sering disebut juga dengan zaman nirleka. Nir artinya tanpa dan leka artinya tulisan.Zaman pra-aksara berakhir ketika masyarakatnya sudah mengenal tulisan.

Pembabakan masa pra-aksara Indonesia telah dimulai sejak 1920-an oleh beberapa peneliti asing seperti P.V. van Stein Callenfels, A.N.J. Th. van der Hoop, dan H.R. van Heekern. Pembabakan masa pra-aksara Indonesia didasarkan pada penemuan-penemuan alat-alat yang digunakan manusia pra-aksara yang tinggal di Kepulauan Nusantara. Para ahli arkeologi dan paleontologi membagi masa pra-aksara Indonesia ke dalam dua zaman, yaitu zaman batu dan zaman logam. 

#M.Ali Surakhman#
https://metrojambi.com/tag/m-ali-surakhman